Daya Beli Lesu, UMKM Perlu Tinggalkan Perang Diskon dan Pangkas Rantai Pasok

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 1 September 2026 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bulky.id merupakan platform grosir digital dalam ekosistem Liquid8 yang menghubungkan UMKM, reseller, dan pedagang dengan sumber stok surplus korporasi. (Dok. Bulky.id)

Bulky.id merupakan platform grosir digital dalam ekosistem Liquid8 yang menghubungkan UMKM, reseller, dan pedagang dengan sumber stok surplus korporasi. (Dok. Bulky.id)

EKONOMINEWS.COM – Di tengah lesunya daya beli masyarakat yang masih terasa hingga 2026, banyak pelaku UMKM memilih respons yang sama: menurunkan harga, menambah diskon, atau mengikuti program flash sale.

Strategi tersebut terlihat masuk akal ketika konsumen semakin hemat dalam berbelanja. Namun, di baliknya terdapat risiko yang perlahan dapat menggerus keuntungan usaha kecil.

Perang diskon sejatinya bukan solusi utama. Kondisi tersebut justru dapat menjadi gejala dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu harga beli stok yang terlalu tinggi.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan Sekadar Soal Menjual Murah

Ketika harga jual terus diturunkan sementara harga beli stok tidak berubah, yang berkurang adalah margin keuntungan, bukan beban konsumen.

Dalam kondisi ini, pelaku usaha harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan bisnis, tetapi memiliki ruang keuntungan yang semakin terbatas.

Data Bank Indonesia per Juni 2026 menunjukkan kredit usaha kecil hanya tumbuh sekitar 1% secara tahunan.

Hal ini menggambarkan ruang gerak UMKM yang semakin sempit, di tengah konsumen yang menahan pengeluaran dan biaya usaha yang tidak ikut turun.

Di saat daya beli menjadi tantangan, cara bertahan yang lebih realistis bukan semata-mata menjual lebih murah, melainkan membeli dengan harga yang lebih efisien.

Selama UMKM masih bergantung pada rantai distribusi yang panjang, mulai dari produsen, distributor besar, distributor kecil, hingga pedagang, setiap perantara turut mengambil margin. Pada akhirnya, biaya tersebut memengaruhi harga modal yang harus ditanggung pelaku usaha di ujung rantai.

Ada Sumber Stok yang Selama Ini Terlewatkan

Di luar jalur distribusi yang umum dikenal, terdapat sumber stok yang belum banyak dimanfaatkan, yaitu barang surplus dari perusahaan besar.

Sumbernya beragam. Ada pabrik yang memproduksi barang melebihi daya serap pasar, perusahaan yang mengurangi aset gudang karena perubahan strategi bisnis, hingga brand fashion yang perlu mengosongkan stok koleksi sebelumnya saat koleksi baru hadir.

Produk-produk tersebut masih baru, layak jual, dan memiliki nilai ekonomi, tetapi tidak lagi masuk ke jalur distribusi utama karena berbagai pertimbangan bisnis dari pemiliknya.

Tanpa pengelolaan yang tepat, barang-barang tersebut dapat menumpuk di gudang dan menjadi beban biaya. Namun, bagi pelaku usaha yang mampu membaca peluang, stok surplus dapat menjadi alternatif untuk memperoleh harga modal yang lebih kompetitif.

Dengan mengakses inventaris dari pasar barang surplus atau re-commerce, pedagang berpeluang mendapatkan stok berkualitas dengan harga yang lebih bersaing dibandingkan jalur distribusi biasa.

Produk tersebut bukan barang bekas maupun rusak, melainkan produk baru yang membutuhkan saluran lain untuk sampai ke tangan konsumen.

Kendala Akses yang Selama Ini Dihadapi

Selama ini, stok surplus tersebar di berbagai gudang dan belum terkonsolidasi dalam satu sistem yang mudah diakses.

Tidak semua pelaku usaha memiliki jaringan atau koneksi langsung untuk memperoleh informasi dan mengakses stok tersebut.

Akibatnya, peluang ini lebih banyak dijangkau oleh pemain besar.

Bulky.id hadir untuk membantu membuka akses tersebut. Sebagai platform grosir digital dalam ekosistem Liquid8, Bulky.id menghubungkan reseller, pedagang, dan pelaku UMKM dengan sumber stok surplus korporasi secara langsung, tanpa rantai perantara yang berlapis.

Melalui model ini, pelaku usaha dapat memperoleh peluang membeli stok dengan harga yang lebih dekat ke sumbernya dan lebih transparan.

Dengan harga modal yang lebih efisien, UMKM dapat memiliki ruang margin yang lebih sehat tanpa harus terus-menerus mengandalkan diskon.

Manfaat yang Lebih Luas

Model distribusi stok surplus juga memiliki manfaat yang lebih luas. Ketika produk yang sebelumnya tersimpan di gudang dapat kembali disalurkan melalui jaringan pedagang kecil, siklus hidup barang menjadi lebih panjang dan nilai ekonominya tetap terjaga.

Produk yang berpotensi tidak terpakai dapat kembali memenuhi kebutuhan konsumen. Pedagang memperoleh peluang margin yang lebih sehat, pemilik stok dapat menyalurkan inventarisnya, dan risiko barang terbuang dapat ditekan.

Pendekatan ini menjadi salah satu praktik ekonomi yang lebih berkelanjutan dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

Saatnya Mengubah Cara Bersaing

Pemerintah juga mulai mendorong penguatan UMKM melalui kebijakan, termasuk Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 yang mendorong potongan biaya layanan marketplace bagi pelaku usaha lokal.

Namun, kebijakan dari luar perlu diikuti dengan langkah nyata dari pelaku usaha untuk memperbaiki struktur biaya di dalam bisnisnya.

Selama harga beli stok tidak diperbaiki, ruang keuntungan akan terus menyempit, terlepas dari seberapa besar diskon yang diberikan.

Karena itu, pelaku UMKM perlu mulai mengubah cara bersaing: bukan hanya berlomba menjadi yang paling murah, tetapi menjadi lebih cerdas dalam memperoleh stok.

Margin yang sehat dapat dimulai dari harga modal yang tepat, bukan dari harga jual yang terus ditekan.****

Berita Terkait

SapuLangit Media Center Luncurkan 5 Media Online Baru, Fokus Berita Kesehatan, Pariwisata dan Lingkungan Hidup
16 Tahun PROPAMI: Ketika Integritas Menjadi Fondasi Profesi Pasar Modal Indonesia
Sarasehan PROPAMI, OJK Paparkan Rencana Simplifikasi Regulasi Pasar Modal
Strategi Komunikasi Krisis Melalui Press Release Dinilai Efektif Menjaga Reputasi Organisasi Tetap Positif
Jangkauan Global dan Lokal: PR Newswire–PSPI Hadirkan Distribusi Pers Rilis yang Cepat dan Kredibel
Rp50 Triliun Terkumpul, Patriot Bond Dorong Kemandirian Pembiayaan Nasional
Rp70 Miliar Dana Nasabah Diduga Raib, BCA dan PGS Investigasi Bersama
Tekanan Eksternal Bikin Pasar Hati-hati, CSA Index September Turun

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 08:41 WIB

Daya Beli Lesu, UMKM Perlu Tinggalkan Perang Diskon dan Pangkas Rantai Pasok

Senin, 24 Agustus 2026 - 06:37 WIB

SapuLangit Media Center Luncurkan 5 Media Online Baru, Fokus Berita Kesehatan, Pariwisata dan Lingkungan Hidup

Senin, 10 Agustus 2026 - 05:11 WIB

16 Tahun PROPAMI: Ketika Integritas Menjadi Fondasi Profesi Pasar Modal Indonesia

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 05:26 WIB

Sarasehan PROPAMI, OJK Paparkan Rencana Simplifikasi Regulasi Pasar Modal

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:37 WIB

Strategi Komunikasi Krisis Melalui Press Release Dinilai Efektif Menjaga Reputasi Organisasi Tetap Positif

Berita Terbaru